Pagi ini, seharusnya saya mengajar di kelas 9A. Tapi karena kelas 9 sudah selesai ujian dan sedang menunggu hari pengumuman kelulusan maka saya tidak masuk kelas. Saya memutuskan menemani Kepala Sekolah memantau kerapihan dan ketertiban anak-anak masuk kelas.
Sampai lewat 20 menit dari jam 06.30 masih ada siswa yang datang terlambat, dari setiap murid terlambat kami menyempatkan bertanya kepada mereka; dimana rumahnya? bangun jam berapa? naik apa ke sekolah? apa sebabnya terlambat? dan semua memberikan jawaban yang tidak bisa di tolerir. Karena kebanyakan siswa Al-Ihsan bertempat tinggal di wilayah Tanah Abang yang bisa ditempuh dalam waktu 15-20 menit berjalan kaki atau 10-15 menit naik angkot, apalagi kalau bawa kendaraan sendiri.Bangun tidur sudah diatas jam 06.00 tidur diatas jam 10.00, kesiangan karena sarapan dulu, antri di kamar mandi, semuanya adalah alasan-alasan yang bisa ditanggulangi kalau mereka mau belajar dan serius ke sekolah.
Bangun pagi dan berangkat tepat waktu adalah pembelajaran kedisiplinan dan peningkatan kesehatan. Semua siswa Al-Ihsan beragama Islam, berarti seharusnya kita sudah bangun pukul 04.30, shalat subuh di masjid, mandi sebelum jam 06.00, syukur-syukur kalau sarapan sudah siap bisa menyempatkan diri untuk sarapan. Kalaupun tidak sempat sarapan istirahat turun main pukul 09.00 untuk sarapan pun masih belum terlalu siang buat kita. Jadi, seharusnya jika mereka berangkat pukul 06.00 dari rumah sudah sampai di sekolah sebelum pukul 06.30.
Datanglah seorang siswa menjelang pukul 07.00 dengan rambut acak-acakan, baju belum di setrika, celana menggantung tanpa ikat pinggang, bahkan tidak berkait (untung saja masih bersleting), kami sudah miris melihat keadaanya sehingga kami memutuskan untuk tidak menindaknya dengan keras, hanya sedikit interogasi:
Kepsek : "Dimana rumahnya?"
Siswa : "Di situ" (sambil menunjuk dengan bibirnya)
Kepsek : "Di situ dimana? jangan tunjuk pakai bibir"
Siswa : "Di Sabeni Pak?"
Kepsek : "Baju kamu ukuran berapa?"
Siswa : "Ngga tau pak belum tau".
Kepsek : "Bapak kamu masih ada". (Pertanyaan ini sering kami ajukan karena kebanyakan siswa kami anak yatim atau ditinggal oleh Bapak yang tidak bertanggung jawab).
Siswa : "Masih Pak"
Kepsek : "Bapak kamu kerja apa?"
Siswa : "Dagang Pak, dagang perabot, tapi ngga disini Pak, di Pandeglang".
Kepsek : "owh... berarti mapan dong, masa beli baju sekolah kamu aja ngga bisa".
Siswa : "iya pak, saya belum beli Pak".
Kepsek : "Memang Ibu kamu ngga lihat baju seragam kamu begini? ngga pantas Nak, mengecilkan sekolah".
Siswa : "Ngga Pak, Ibu saya dagang ketupat sayur kalau pagi".
Kepsek : "Ya kamu urus diri sendiri dong, pantes-pantasin diri ke sekolah".
Sementara diinterogasi, saya memeriksa isi tasnya. Saya temukan dua batang rokok murahan, pulpen yang hampir berantakan isinya, dan beberapa buku pelajaran yang masih bagus-bagus. Hampir seluruh buku LKS tidak ada yang terisi, empat buah buku catatan hanya halaman depan yang terisi, padahal sekolah hampir genap satu tahun, namun dia belum belajar apa-apa karena bukunya tidak ada yang terisi. Saya yakin tak pernah juga dibaca terlihat dari kondisi buku-buku tersebut yang masih bagus.
Kemudian saya sedikit menginterogasinya :
Saya : "Hari ini belajar apa?"
Siswa : "..............................."
Saya : "Jam pertama ini pelajaran apa?"
Siswa : "..................................." (makin melongo)
Saya : "Ya udah, gurunya siapa jam pertama?"
Siswa : "Ngga tau pak, ngga punya jadwal pelajaran. Makanya saya bawa semua bukunya".
Saya : "Kamu sekolah hampir genap satu tahun, sudah puluhan hari Selasa kamu lalui selama ini dan kamu masih belum hapal pelajaran apa di hari Selasa. Bahkan nama pelajaran dan nama gurunya pun saya yakin kamu tidak tahu!"
Siswa : (bengong! dengan pandangan tidak percaya bagaimana saya bisa menebak semua itu dan BENAR!"
Saya : "Kamu hidup punya cita-cita ngga?"
Siswa : (hanya memandang langit dengan tatapan kosong)
Saya berusaha menyederhanakan pertanyaan : "Nanti, kalau kamu lulus, ada ngga hasrat di dalam diri kamu untuk menjadi seseorang yang bisa membantu orang tua dan dibanggakan orang tua ?"
Siswa : (makin bengong..................................................................)
Saya : "ah....... sudahlah, bahkan bel ganti pelajaran sudah berbunyi. naiklah ke kelas Nak".
Setelah siswa tadi masuk, saya sedikit berbincang dengan Kepala Sekolah:
Kepsek : "Saya miris melihat Indonesia sekarang Wir, waktu saya ke BCA begitu masuk pintu; satpamnya orang Indonesia; masuk ke resepsionis orang Indonesia; teller orang Cina, manajernya berdiri di belakangnya orang Cina, bahkan nasabah yang diperlakukan secara eksklusif di dalam ruangan orang Cina".
Saya : "Ya Pak, tampaknya kita harus bersiap di jajah kembali. semua sektor sudah terisi dengan orang Cina, bahkan pemerintahan". (Tahukan siapa Wakil Gubernur kita sekarang?)
#Dibuat dalam rangka memperingati 105 tahun Hari Kebangkitan Nasional ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar